Klub panahan keraton – Sejarah

Sudah berjalan 2 tahun aku bergabung – nyawiji di klub panahan keraton Yogyakarta, yaitu “GANDHEWA MATARAM“. Dan, bukan hal yang mudah lho untuk bisa belajar memanah di dalam kraton, mengingat sebelumnya … anggota klub panahan ini hanya khusus para abdi-dalem saja.

Klub Jemparingan Keraton Jogja : GANDHEWA MATARAM

Belajar memanah di klub panahan keraton Yogyakarta : Gandhewa Mataram
Belajar memanah di klub panahan keraton Yogyakarta : Gandhewa Mataram

Selasa, 23 November 2021. Pekerjaan di toko jahitanku: YARDEN Tailor sedang sepi, jadi aku punya waktu lebih untuk membetulkan beberapa anak-panah yg akan kupakai sore ini di klub panahan keraton Yogyakarta.

Jam 15.30 – para kanjeng, romo, dan nyai, anggota Paguyuban jemparingan-mataraman Kraton Jogja sudah berkumpul di Kagungan Dalem Bangsal Kemandungan.

Hari Selasa-sore memang jadual-rutin kami berlatih memanah di Kemandungan.

Di atas pendapa kulihat Kanjeng Jatiningrat – penghageng Tepas Dwarapura; Kanjeng Hastananingrat – penghageng Puralaya makam raja-raja di Imogiri dan Kotagede. Kanjeng Joyodipuro, dan para kanjeng yang lain sudah duduk bersila, ngobrol santai sembari menunggu anggota lain maraksowan.

Marak, adalah istilah bagi perempuan yang datang ke kraton; sedangkan bagi kaum pria, istilahnya adalah : sowan. Sebagai contoh : saya sowan ke karaton. Jadi bukan : saya datang ke keraton.

k

Sejarah jemparingan di Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat

Seperti biasa, Kanjeng Joyodipuro membuka gladhen sore hari ini dengan ucapan selamat datang. Bagi sebagian besar orang, pasti heran dengan bahasa yang Beliau pergunakan.

Ya, bahasanya memang bahasa Jawa halus, tetapi … ada istilah-istilah seperti ‘mboya’, “meniro”, “pekeniro”, dan lain-lain. Di kalangan abdi-dalem keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, bahasa yang lazim digunakan adalah bahasa Bagongan. Bahasa ini sudah lama dipakai sejak jaman Sultan Agung, era Mataram Islam.

Kemandungan. belajar memanah jemparingan di klub panahan keraton Yogyakarta
Sasaran panahan berupa wong-wongan, boneka jerami yang digantung pada seutas tali

Kerajaan Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat adalah kasultanan yang kental dengan budaya Jawa. Adat istiadat masyarakat Hindu Buddha tetap direngkuh, namun juga diselaraskan dengan budaya islam Nusantara. Demikian juga pemakaian bahasa Bagongan di dalam istana berfungsi untuk meniadakan sekat kasta antara Sultan dengan para abdi dalem, maupun abdi dalem yang berpangkat tinggi dengan yang lebih rendah.

Selain bahasa bagongan, seragam para abdi-dalem karaton juga unik. Namanya baju pranakan. Motifnya lurik / garis-garis ‘telupat’ sebagai simbol kesederhanaan. Warnanya biru tua, melambangkan kedalaman budi dan pemahaman budaya para abdi dalem. Istilah ‘Pranakan’ sendiri mengingatkan pemakainya, bahwa para abdi-dalem ini diangkat sebagai saudara / diperanakkan dari satu rahim. Dan mereka menyebut satu sama lain dengan sebutan ‘Kanca’.

Abdi-dalem karaton Ngayogyakarta Hadiningrat BUKAN ‘abdi’ dalam pengertian babu atau pembantu, apalagi budak. Seorang abdi dalem Kraton adalah aparatur nagari, memiliki harga-diri, dan tanggung-jawab sebagai abdi budaya, maksudnya setiap abdi-dalem karaton diharapkan bisa menjadi teladan yang baik di masyarakat luar karaton.

Memahami konsep berpikir di dalam karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, bisa dipahami bahwa kata ‘panah’, panahan, atau memanah, lebih umum dipakai dibanding kata ‘jemparingan’.

Jemparingan adalah bahasa jawa halus atau kromo-inggil dari kata ‘panahan’. Penyebutan istilah ‘jemparingan’ lazimnya diucapkan di luar karaton Yogyakarta, karena menunjukkan ‘kasta’, diucapkan oleh orang yang lebih rendah / muda kepada yang lebih tua atau dihormati.

o

Bukti Sejarah Panahan di Karaton Yogyakarta

Pada tahun 1757, saat Sri Sultan Hamengku Buwana ke-1 selesai membangun Kraton Yogyakarta, di salah-satu komplek kraton dibuat Sekolah TAMANAN. Memanah menjadi salah-satu mata pelajarannya.

tamanan kraton jogja belajar memanah jemparingan keraton
Sumber foto : @kratonjogja

Panahan, atau dalam bahasa jawa krama-hinggil : ‘jemparingan’, sejarahnya sudah dikenal sejak awal Kasultanan Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat berdiri. Berasal dari kata “manah” yang artinya ‘hati’. Memanah artinya mengincar sasaran dengan mata-hati, bukan paningal (dilihat dg mata).

Klub panahan keraton yogyakarta sejarah panahan

Sewaktu Inggris Raya menyerbu Kraton Jogja dan menasingkan Sultan Hamengku-Buwana ke-II, Kraton dipecah menjadi dua : Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Puro Pakualaman, yang juga dipimpin putra ke-3 HB ke-1.

Pangeran Natakusuma bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam I, dan membawa panahan jemparingan ke luar kraton.
baca selengkapnya …

Di masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono ke-VIII, dibuatlah medali EKALAYA dari emas murni, sebagai penghargaan bagi pemanah yang berhasil ‘sandang 4’ (4 anak-panah menancap di wong-wongan dalam 1 rambahan). Dan sepengetahuanku, baru 1 orang yang bisa mendapatkan medali Ekalaya, yaitu Sri Padula Pakualam ke-VIII.

belajar memanah di klub panahan keraton. halaman kemandunga
KRT. Hastono Ningrat mboyong trophy Gadhewa Mataram – biji 7

Bagaimana Cara Bermain Panahan Keraton?

… bersambung

Posted in kemandungan | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Belajar Memanah di Kraton Yogyakarta

I. PERKENALAN

Selasa-sore di Kraton Jogja. Mendung menggantung menaungi para abdi-dalem yang belajar memanah jemparingan di plataran Kagungan Dalem Bangsal Kemandungan, Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Satu persatu jemparing kami melesat, mengenai wong-wongan.

belajar memanah jemparingan Kraton Jogja
Gladhen Jemparingan Mataram gaya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, di halaman Kemandungan

II. Sejarah Jemparingan di Yogyakarta

Pada tahun 1757, Sri Sultan Hamengku Buwana ke-I mendirikan Sekolah TAMANAN, di dalam komplek kraton Yogyakarta. Salah satu mata-pelajarannya adalah : memanah. Waktu itu yang boleh belajar hanya sentana-dalem / keluarga Sultan, dan keluarga abdi-dalem berpangkat tinggi.

Kasultanan Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat di era HB.I adalah negara merdeka, memiliki banyak sekali prajurit, mampu membuat-sendiri meriam, mesiu, dan bedil (senapan). Walaupun Kraton memiliki bregada Nyutra yang bersenjata panah, panahan sendiri bukan menjadi senjata untuk perang.

Sejak jaman Sultan Agung (Mataram Islam), prajurit Nyutra yang berasal dari Madura lebih berfungsi sebagai kelangenan, berbaris sambil menari untuk acara seremonial, dan selalu berada di samping Sultan (bukan prajurit perang).

Bregada Nyutra, Kasultanan Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat

Bahkan setelah Mataram dibagi 2, pasca Perjanjian Giyanti : Prajurit Panyutra (Sala) dan Bregada Nyutra (Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat) tetap memiliki fungsi yang khas, yaitu disamping raja.

III. Belajar Memanah & Menari

Para sentana-dalem dan keluarga abdi-dalem belajar memanah di kraton Yogyakarta bukan untuk keperluan berperang. Mereka belajar memanah & menari (joged Mataram) untuk tujuan : Pembentukan karakter Ksatria Mataram (character-building), yaitu : Nyawiji, Greget , Sengguh, dan Ora-Mingkuh.

Di era Sri Sultan Hamengku Buwana ke-2, Kasultanan Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat pecah menjadi 2 setelah peristiwa Geger Sepehi. Inggris Raya menduduki Kraton Yogyakarta dan membagi negara menjadi : Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman.

belajar memanah jemparingan panahan pakualaman yogyakarta
Busur, panah, perisai, tombak pusaka Kadipaten Pakualaman

Pangeran Natakusuma, putra ke-3 dari Sri Sultan Hamengku Buwana ke-I menjadi penguasa Kadipaten Pakualaman yang pertama.

Panahan mulai merambah keluar-kraton, walaupun masih terbatas untuk kalangan abdi-dalem di Kadipaten Pakualaman saja.

III. JEMPARINGAN APA?

Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat & Kadipaten Pura Pakualaman bergabung dengan negara kesatuan Republik Indonesia pada tahun 1945.

Pada tanggal 12 Juli 1953, Pakualam ke-VIII mendirikan PERPANI (Persatuan Panahan Indonesia). Beliau aktif melatih dan memfasilitasi para pemanah di Yogyakarta, yang sebelumnya memanah dengan cara memegang busur secara horisontal, menjadi atlit-atlit panahan modern untuk berlaga di kancah internasional. Para atlit panahan Indonesia memanah dengan berdiri, dan memegang busur secara vertikal. Kraton Yogyakarta menyebutnya dg istilah : jemparingan gagrag PERPANI.

belajar memanah jemparingan keraton Yogyakarta romo tirun jatiningrat
KRT. H. Jatiningrat, SH. cucu Sri Sultan HB.VIII – penghajeng Paguyuban GANDHEWA MATARAM

Sewaktu masih kecil KRT. H. Jatiningrat SH sering melihat Sri Pakualam ke-VIII berlatih memanah bersama di Kraton Ngayogyakarta, di Kemandungan Lor yang sekarang menjadi Restaurant Bale Raos.

Saat dewasa, Beliau menjadi salah-satu murid langsung Pakualam VIII, belajar jemparingan gagrag PERPANI.

Kraton Yogyakarta sampai sekarang tetap memegang tradisi memanah dengan cara memegang busur secara horisontal.

IV. Klub Panahan

Klub-klub panahan di Yogyakarta. Baca selengkapnya ...

Posted in Belajar memanah | Tagged , , , , , | Leave a comment

Klub panahan PASTI

Pagi di Klub panahan “PASTI Istimewa”, Kemantren Mantrijeron lumayan dingin. Sudah 2 hari ini Yogyakarta diguyur hujan seharian. Kami tidak bisa belajar memanah.

Photo by: pakdhe Gandhung

Waktu masih menunjukkan pukul 6 lebih sedikit, dan suasana PASTI masih lengang. Hmm, apa yang harus ku buat? Ku raih sapu lidi di bawah pohon Kluwih di pinggir sasana, dan perlahan kusapukan ke daun-daun yang gugur semalam karena hujan.

Badanku mulai terasa hangat, dan lapangan juga jadi bersih. Hmmm … rasanya segar.

Cuaca masih mendung, saat jemparing-jemparing panahku melesat ke sasaran wong-wongan (boneka jerami) yang digantung di kejauhan.

Beberapa anak-panahku mulai mengenai sasaran kecil itu, dan membunyikan lonceng yg dipasang dekat wong-wongan saat deru-halus sepeda motor Pakdhe Gandhung menyapa telingaku dg lembut.

Akhirnya ada yg menemani … aku tersenyum gembira.

Klub panahan PASTI ini sebenarnya masih baru beberapa bulan berdiri. Menempati lahan bekas sawah yg dikeringkan, milik warga kampung Dukuh, Mantrijeron, Daerah istimewa Yogyakarta.

Salah-satu pemilik lahan ini seorang bapak tua. Beliau dengan senang-hati meminjamkan tanahnya untuk kegiatan jemparingan warga.

Klub panahan (KP) yang GRATIS + dapat makan 😀

Aku bergabung di klub panahan PASTI ISTIMEWA, kecamatan/Kemantren Mantrijeron, DI. YOGYAKARTA sekitar bulan Oktober 2021, dan mulai jadi duta untuk lomba / gladhen panahan mewakili klub mulai 7 November 2021 lalu.

Tapi, itu kisah yg mau ku bahas nanti, kali ini aku mau cerita tentang klub panahan di Yogyakarta yang GRATIS, ‘udah gitu sering dapat makan … ya di KP. PASTI ini 😁😁

Masih ingat khan, bapak tua pemilik lahan panahan ini ? Sekali waktu aku datang ke sasana … beberapa warga sedang belajar memanah, sebagian duduk-duduk di meja bambu pinggir lapangan.

Sudah jadi kebiasaan kala datang, aku memberi salam … berjabat tangan dengan yang sudah hadir, salahsatunya dengan bapak tua ini.

Kami ngobrol sebentar dan mengatakan betapa beruntungnya bisa ikut belajar jemparingan di PASTI ini.

Dari bicaranya, tampak bapak itu juga senang tanah kosong miliknya bisa bermanfaat dan menjadi bersih. Pernah kulihat di WAgroup, foto bapak tua pemilik lahan ini bahkan menyediakan minuman untuk tetangga-tetangganya yg baru belajar memanah.

What ?

Siang itu aku baru bersiap latihan jemparingan bareng teman-teman kampung, saat bapak tua itu melambaikan tangannya ke seorang warga, “Ambil ketela di kebon, buat dimasak disini” katanya lembut … “ya, Mbah. Siap !”

Tidak berapa lama pak Heri mengambil besi untuk mencabut ketele di kebun bapak tua. Dengan santai beberapa warga membantu ‘panen singkong’, dan membawa nya ke sasana. Siang itu kami pesta singkong rebus.

Oh, iya. Pohon Kluwih di pinggir lapangan ini juga hampir tiap hari ‘mengirim’ makanan. Baru asyik-asyiknya memanah, tiba-tiba … BRUUKK.. !

Buah Kluwih jatuh !
Kami bergegas memungut, mengambil biji-bijinya lalu direbus. Enak lho, dimakan hangat-hangat bareng teman.

Artikel ini ditulis oleh : Kris panahan

Posted in Belajar memanah, PASTI Istimewa | Tagged , , , , , , , , | Leave a comment

Belajar memanah – Hantu Kemandungan

I. From IG to Kemandungan

belahjar memanah di kemandungan kraton jogja

“Selamat sore mas Kris, saya Fatma yang di instagram menanyakan tentang Jemparingan di Kemandungan, kompleks Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat …”

Sebuah perkenalan formal via layanan pesan WhatsApp, membuka jembatan silaturahmi di antara kami.

Sudah beberapa kali aku mendampingi mahasiswa maupun kelompok komunitas yang ingin belajar memanah di Kraton Yogyakarta … tak kusangka, kali ini justru aku yg mendapatkan banyak pelajaran berharga …

i

II. BANGSAL KEMANDUNGAN – teknologi bangunan

Cewek ini perawakannya cungkring, tingginya seukuran anak kami yg kedua. Bedanya, dia datang untuk mengerjakan tugas-kuliah, sedang jagoan kami baru kelas 2 SMP.

Kulihat dia bergegas meninggalkan tukang ojol dan menghampiriku dg penuh semangat sambil memperkenalkan-diri: “Aku Fatma, mas Kris ..”

Tampaknya ia mengenaliku dari tas busur yg aku bawa.

“Saya pak Kris. Sebentar njeh saya mau menaruh busur jemparing ini dulu di dalam. Mari ikut masuk ke bangsal Kemandungan.”

Bangsal, adalah jenis bangunan Kraton tanpa dinding penyekat yang terdiri dari atap berbentuk joglo, yang disangga tiang-tiang saka, dan pondasi pendapa. Semuanya masih asli.

Kayu balok besar yang kokoh, konstruksi sambungan yang utuh, tak lekang digoncang gempa dahsyat yang pernah meluluh-lantakkan kota Yogyakarta di hari ulang-tahunku, 27 Mei 2006.

Bangsal Kemandungan, adalah bukti majunya teknologi rancang bangun wangsa Mataram. Diboyong dari dusun Pandak Karangnangka di Sala, dibawa ke Yogyakarta pada tahun 1755, dan masih kokoh berdiri sampai hari ini.

Sekilas kulirik mbak Fatma yang sibuk mengeluarkan kamera digital dan monopod-nya. Tampak kontras sekali dengan bangunan kuna yang menyimpan berjuta cerita ini.

Anak-anak kampung mulai berlarian juga ke arahku : “Pak Kris, kita latihan panahan, ya!” … “iya, ayo semua masuk. Oh iya, pak Kris dibantu menggelar tikar di pendapa yuk!”

Aku menoleh ke Fatma dan bertanya: “Dari jurusan apa, mBak? … “saya dari prodi Desain Komunikasi Visual, Pak”, jawabnya riang.

“Baik, silahkan mengambil dokumentasi, saya sambi mengajar anak-anak dulu, ya.”

Suasana Sabtu sore itu cerah, anak-anak berlatih memanah jemparingan gaya Kraton Yogyakarta dengan riang-riuh khas anak-anak kampung.

Tugasku menjadi lebih ringan saat mas Wahid dan putranya sowan.

Sowan? Itu istilah bagi laki-laki yang datang ke Kraton. Kalau wanita, seperti mbak Fatma, disebutnya: marak.

Mas Wahid melanjutkan tugas mengajar panahan di halaman Kemandungan, sedang kami melangkah masuk kembali ke pendapa. Beberapa anak ikut duduk bersama kami di tikar saat aku mempersilahkan mbak Fatma untuk bertanya.

k

III. Kagungan Dalem Bangsal Kemandungan, Kraton Jogja

“Patung di tengah pendapa itu kenapa, pak Kris?”

Pertanyaan pertama itu benar-benar mengejutkanku … membuatku berpikir sejenak bagaimana memberi-jawab diantara murid-murid mungilku ini.

“Oh, di depan patung abdi-dalem itu ada tulisannya : Dilarang naik ke pendapa. Kadang-kadang ada dupanya juga, mbak. Tujuannya biar anak-anak tidak berlari-larian di atas sini.’ jawabku ringan.

Aku melanjutkan, “Tapi cara itu kurang berhasil. Kami sekarang justru mengajak anak-anak duduk di pendapa, dan belajar-bersama tatakrama saat bermain jemparingan. Sekarang, tidak ada lagi anak-anak yang berlari main-bola diatas pendapa ini,” ujarku sambil melirik Sasa.

Gadis kecil Kemandungan ini hanya nyengir, lalu menjawab: ” Ya, pak Kris … dulu aku juga suka main bola di atas pendapa” ujarnya sambil tersenyum malu.

Pertanyaan-pertanyaan selanjutnya mengalir gampang, sampai waktu mengantar kami ke senja.

Dengan sopan aku mengajak mengakhiri wawancara sore ini. “Yuk, pak Kris mau menutup kori (pintu) bangsal Kemandungan ini”, dan kami pun beranjak keluar bangunan.

Ternyata, walau hari mulai gelap lampu di pendapa belum dinyalakan. Kami masih di depan kori saat Sasa bicara pelan, “Pak Kris … Kuntilanak-nya ada di sana lho”

Hmm, aku menoleh ke pojok pendapa lalu berkata : “Hei, MRENE (kemari) !”

Aku memperhatikan anak-didik di depanku. Aku ingin tahu, bagaimana ekspresi terutama si Sasa yang tadi berkata lirih kepadaku.

Bulu-kudukku merinding. Dari rambut-kepala sampai ke pinggang langsung terasa kesemutan. “Hmm, dibelakangku, ya? Tidak masalah”, batinku.

Dengan lembut aku menatap ke Sasa : “Yang penting NIAT-nya. Kalau baik, tidak masalah.”

Aku perhatikan Sasa tetap santai, sepertinya penampakan seperti ini hal biasa di Kemandungan. Atau, karena ia percaya aku ada disampingnya, aku tidak tahu.

Setelah ‘selesai’ dg murid-kecilku, pandanganku beralih ke mBak Fatma. Reaksinya sedari tadi diam saja. “Mbak, sudah pesan ojol, ya. Jangan kuatir kita temani sampai driver-nya datang”, ujarku ringan.

“Belum koq pak Kris, aku belum pesan ojol. Kalau pak Kris mau pulang duluan, biar aku ditemani dek Sasa saja,” jawabnya santai.

Aku menarik nafas lega. Omongannya nyambung … semua baik-baik saja.

Dalam hati aku berkata : “Andai saja teknologi digital yang dibilang ‘maju’ itu bisa merekam peristiwa perkenalan tadi … ach, teknologi lama bangsal Kemandungan ini, justru mampu membingkainya dalam harmoni Jawa yang syahdu”. Aku pamit pulang.

IV. JEMPARINGAN VS HaPe : Senjata & media belajar charakter building

WhatsApp menjadi teknologi-penghubung yang menghantar kami untuk ‘janjian’ marak-sowan ke Kanjeng Raden Tumenggung Jatiningrat, di Tepas Dwarapura. Beliau adalah penghajeng atau pemimpin Paguyuban Jemparingan Gandhewa Mataram, yang beranggotakan para abdi-dalem Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Sekali lagi teknologi-modern itu mandul di belahan Indonesia bagian Ngayogyakarta Hadiningrat. Pria tua itu tidak menggunakan handphone. Dan andai pun punya, aku juga tidak akan memakai nomornya untuk sekedar janji-temu. Adab kami tidak seperti itu.

Hari Senin kraton libur. Suasana lengang. Tidak ada prajurit bertombak yang biasa berdiri-jaga.

Dengan perlahan aku mendorong pintu-gerbang regol Srimanganti yang berat, lalu kami masuk ke dalam karaton. Di regol Srimanganti ini Sri Sultan biasa menerima kunjungan presiden, atau tamu negara lainnya.

Di dalam karaton hanya terlihat 2 abdi-dalem sedang mengatur perangkat gamelan. Kami melangkah hormat melewati bangsal Trajumas, lalu berjalan pelan ke kantor tepas Dwarapura.

Berbeda dengan lengangnya suasana di pintu gerbang Srimanganti, di Dwarapura semua Kanjeng sedang duduk di meja-kerjanya masing-masing.

Kami dipersilahkan menunggu sebentar, sampai Kanjeng Jatiningrat hadir. Pria tampan ini berjalan kaki dengan gagah dari rumahnya di sisi barat komplek kraton dan menyambut kami dengan suaranya yang lembut. Senyum khas abdi-dalem senior tampak menenangkan hati.

Dengan singkat aku memperkenalkan mbak Fatma ke Beliau, lalu duduk-diam menyaksikan jalannya rekaman wawancara.

Putri dari Depok, Jawa Barat, duduk-diam memegang erat monopod kecil yang menyangga kamera digital. Tampak rapuh berusaha mereguk sejarah 266 tahun sejak awal berdirinya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Dan sekolah TAMANAN yang didirikan Sri Sultan pertama untuk mengajar pendidikan budi-pekerti putra-putri bangsa. Materi pelajaran yang sangat ditakuti Belanda.

v

V. Belajar memanah gaya karaton Ngayogyakarta Hadiningrat

Sekolah Tamanan 1757 M. Belajar memanah di Kraton Jogja sejak awal berdiri Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat bukan lagi untuk tujuan berperang atau membela-diri. Bukan untuk berburu binatang atau membunuh lawan.

Memanah dijadikan salah-satu teknologi penghubung untuk pembentukan karakter (character bulding) putra-putri kasultanan. Mengincar sasaran boneka kecil yang digantungkan di seutas tali, tanpa boleh diincar dengan dilihat menggunakan indera mata. Memanah di karaton Yogyakarta berasal dari kata ‘manah’ yang berati : hati. Mengincar sasaran sejauh 32 meter, hanya dengan menggunakan (mata) hati.

p

VI. PERMAINAN VS GAMES, Selasa sore di Kemandungan

Waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 dan aku masih bergumul membuat pola, dan memotong kain untuk dibuat celana. Mbak Fatma pasti sudah sampai di bangsal Kemandungan bersama para abdi-dalem yang bersiap bermain jemparingan.

Ini hari terakhirnya di Yogyakarta, dan kesempatannya hanya tinggal satu kali ini untuk bisa membuat tugas liputan Sejarah jemparingan di Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Dan disini … aku masih terikat dengan tugas pekerjaan. Dan ditunggu tukang-tukang jahitku, yang menggantungkan nafkah dari kerja borongan menjahit di perusahaan keluarga kami.

Peluang kecil ini hanya bisa aku gantungkan pada ‘teknologi-sosial’ nan rumit, yang sudah kami jalin sekian waktu dengan Kanjeng Joyodipura. Dan benar saja …

Waktu sudah menunjukkan pukul 16 lebih, saat aku sampai di halaman Kagungan Dalem Bangsal Kemandungan, karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Para Kanjeng dan abdi-dalem sudah ramai bermain panahan, dan ku lihat … mbak Fatma juga sedang berjalan membawa jemparing (anak-panah) berbulu ungu yang sangat ku kenal. Anak-panah pusaka milik Kanjeng Joyodipura.

Setelah mengucap salam, dan memohon maaf atas keterlambatanku, aku dipersilahkan duduk dan mendampingi mengajar mbak Fatma memanah. Busur dan jemparing itu di-suwun-nya (diminta) kembali, dan aku di-dhawuhi (diperintahkan) untuk menggantikan mengajar.

Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat disusun dengan sistem paugeran yang rumit. Salah-satunya : abdi-dalem tidak diperkenankan mengajar masyarakat umum. Ditambah lagi, hari Selasa sore adalah jadual memanah khusus para abdi-dalem karaton.

Namun sekali-lagi teknologi ‘jaman-old’ di Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang mengedepankan rasa, LEBIH UNGGUL (minimal dari sudut-pandangku) dibanding teknologi ‘mesin’ yang dibuat untuk memenjarakan manusia.

V. PENUTUP

Hari ini, mbak Fatma sudah di Jakarta dan aku masih bergelut didepan komputer menulis tugas latihan mengarangku ini.

Menurut KBBI, Teknologi adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia.

Hari ini aku belajar : Kemajuan Teknologi di Indonesia bagian Ngayogyakarta Hadiningrat, mungkin ‘sedikit’ berbeda dengan rumitnya teknologi mesin modern yang tidak mengenal kompromi.

Mungkin aku akan menyebutnya: Kemajuan teknologi yang ‘njawani’.

Posted in kemandungan | Tagged , , , , , | Leave a comment